Berita

Selain Reksa Dana Saham, Sukuk Retail Juga Bisa Menjadi Pilihan Investasi


Selain Reksa Dana Saham, Sukuk Retail Juga Bisa Menjadi Pilihan Investasi

  • Pengaruh ekonomi global masih memiliki dampak yang cukup besar untuk pasar Indonesia, di antaranya adalah sentimen dari perkembangan perundingan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang mengakibatkan koreksi yang terjadi di pasar saham Indonesia beberapa waktu lalu.
  • Dengan kondisi yang masih rentan, Bank Commonwealth merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi jangka panjang dengan imbal hasil yang lebih optimal ketimbang reksa dana lainnya dan Sukuk Retail sebagai salah satu pilihan diversifikasi investasi.
Jakarta, Rabu, 13 Maret 2019 – Pasar saham Indonesia tercatat mengalami koreksi pada bulan Februari lalu, sementara obligasi Indonesia menghasilkan return positif. Melihat hal ini, Bank Commonwealth merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi utama karena potensi kenaikannya yang lebih menarik dibandingkan reksa dana lainnya dan Sukuk Retail yang bisa menjadi salah satu pilihan diversifikasi investasi untuk Anda yang memiliki profil risiko konservatif dan moderat.

Pada bulan Februari lalu, terjadi koreksi pada pasar saham Indonesia. Hal tersebut lebih disebabkan oleh sentimen dari perkembangan perundingan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Perundingan perang dagang tersebut diharapkan dapat terselesaikan sebelum batas waktu perjanjian tanggal 1 Maret 2019, namun tidak sesuai harapan di mana perundingan diperpanjang hingga pertengahan Maret 2019 karena kedua belah pihak masih belum menemukan titik temu perundingan. β€œHal ini membuat investor asing yang awal tahun masuk ke pasar Indonesia memutuskan menarik dahulu sebagian dananya. Dana asing yang keluar tersebut menyebabkan penurunan IHSG. Di bulan Maret ini, arah pasar keuangan juga akan kembali fokus pada pertemuan lanjutan AS dan Tiongkok,” jelas Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya.

Sementara itu di bulan lalu juga, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Utara Kim Jong Un kembali bertemu untuk kedua kalinya, membahas hubungan antara kedua negara terkait nuklir dan pembangunan. Namun pertemuan kedua ini masih belum menemukan titik terang hubungan antara kedua negara tersebut. Selain itu, isu Brexit di Eropa juga menjadi salah satu sentimen dari luar negeri, dengan tenggat waktu yang semakin dekat dengan tanggal keputusan Inggris Raya meninggalkan Uni Eropa. Investor juga masih terlihat berhati-hati dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi Dunia.


Di sisi lain, dari dalam Negeri, Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan 7 Day Reverse Repo di angka 6,0% dengan pertimbangan bahwa potensi kenaikan suku bunga acuan AS di tahun 2019 tidak seagresif kenaikan di tahun 2018, keyakinan bahwa inflasi tahun 2019 dapat terkendali, dan kondisi pasar keuangan dunia yang mulai melihat kembali ke emerging market setelah adanya keyakinan bahwa perang dagang antara AS dan Tiongkok dapat diselesaikan dengan perundingan.


Meski demikian, hasil laporan keuangan emiten di pasar saham Indonesia yang positif, fundamental ekonomi Indonesia dan kondisi politik yang relatif stabil, dapat menjadi sentimen positif yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara tujuan investor asing. Selain itu, walaupun pertumbuhan ekonomi global diperkirakan akan melambat di tahun 2019, tetapi pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi masih akan akan positif 5,0% - 5,4% sepanjang tahun 2019 dengan ditopang oleh daya beli konsumen yang terjaga dan dampak positif persiapan pemilu. "Untuk investasi yang sifatnya jangka menengah – panjang (minimal 1 tahun), kami lebih melihat reksa dana saham sebagai pilihan utama dengan mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio. Karena di tahun 2019 ini, potensi kenaikan saham lebih menarik dibandingkan dengan aset kelas lainnya. Sedangkan, bagi Anda yang memiliki profil risiko konservatif dan moderat, Sukuk Retail dapat menjadi salah satu pilihan diversifikasi investasi selain reksa dana saham dengan kupon 8,05% per tahun setara dengan deposito 8,55% per tahun merupakan imbal hasil yang menarik," jelas Ivan.


Ivan menyebutkan ada beberapa agenda yang masih harus diperhatikan seperti perkembangan politik Inggris, terutama menjelang persetujuan proposal Brexit oleh Parlemen Inggris, pertumbuhan ekonomi global yang melambat, yang dimotori oleh perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok, dan jelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia tahun 2019.

Untuk dapat mengoptimalkan investasi para nasabah, Bank Commonwealth menyediakan aplikasi CommBank SmartWealth yang merupakan aplikasi pertama di Indonesia yang berfokus pada solusi wealth management secara komprehensif (The first comprehensive Wealth Management application in the market) dan dilengkapi dengan fitur robo-advisory yang memberikan rekomendasi alokasi aset investasi untuk membantu mengoptimalkan investasi nasabah sesuai dengan profil risikonya di mana saja dan kapan saja. Aplikasi ini dapat membantu para nasabah mengantisipasi dampak dari perubahan kondisi ekonomi khususnya kondisi pasar dan mengoptimalkan investasi mereka.

Aplikasi CommBank SmartWealth memudahkan nasabah memonitor pertumbuhan seluruh portofolio produk wealth management yang mencakup produk investasi seperti reksadana dan obligasi (bonds), asuransi (bancassurance), dan tabungan serta deposito kapan saja dan di mana saja. CommBank SmartWealth juga memberikan notifikasi berita perkembangan pasar domestik dan global secara reguler dan fitur messaging untuk berkomunikasi dengan relationship manager.